Minggu, 06 Januari 2013

Transformasi Nilai-Nilai dalam Organisasi

Ketika sebuah organisasi berhubungan dengan pihak-pihak yang berada di luat organisasi maka akan terjadi yang dinamakan dengan Transformasi Nilai-Nilai. Transformasi Nilai-Nilai ini terjadi akibat peleburan kebudayaan luar organisasi ke dalam budaya organisasi.

Menurut Deal & Kennedy terdapat 7 budaya negatif yang dapat mengkontaminasi sebuah kelompok yaitu:




1.      Budaya Ketakutan ( Culture of Fear)
Budaya ketakutan menimbulkan rasa tidak pasti dan tidak aman terhadap individu-individu di dalam organisasi, terutama individu-individu yang tidak memiliki kendali, maka dari itu mereka akan membentuk kelompok baru.
2.   
         Budaya Menyangkal (Culture of Denial)
Ketika manusia mengalami perubahan, manusia akan memiliki kecenderungan untuk menyangkal perubahan tersebut, karena notabennya manusia membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menerima sebuah perubahan. Penyangkalan-penyangkalan tersebut dapat berupa ucapan seperti “tidak mungkin seperti ini” atau “mungkin ada yang salah” dan hal inilah yang membuat para pemimpin sulit mengambil keputusan.
3.      
          Budaya Kepentingan Pribadi ( Culture of Self-Interest)
Ketika sebuah organisasi mengalami perubahan ke arah negatif, individu-individu di dalam organisasi terebut akan sibuk mengurusi kepentingan pribadinya masing-masing, setelah dirasa cukup, individu-individu tersebut akan kembali kepada kelompok kecil mereka masing-masing dan akan mengutamakan kepentingan kelompoknya dan hal ini akan menghambat kinerja organisasi tersebut.
4.    
          Budaya Mencela (Culture of Cynicism)
Dalam proses perubahan di dalam sebuah organisasi, secara alamiah individu-individu di dalamnya akan membentuk kelompok-kelompok kecil dan setiap kelompok-kelompok ini memiliki seseorang yang berpengaruh di dalam kelompok tersebut, pemimpin-pemimpin inilah yang akan mendapat celaan dari bawahan-bawahan yang berada di kelompok lainnya yang kontra terhadapnya dan hal ini akan dimanfaatkan oleh pihak lain untuk mengutamakan kepentingan pribadinya dari pengaruh budaya sinisme tersebut.
5.   
          Budaya Tidak Percaya ( Culture of Distrust)
Individu-individu di dalam organisasi yang mulai meentingkan kepentingan pribadinya masing-masing akan mulai mengalami kehilangan rasa percaya terhadap organisasi dan pimpinan-pimpinannya, maka dari itu otoritas tidak lagi berfungsi dalam situasi ini dan kesepakatan-kesepakatan yang dibuat oleh pemimpin pun akan sulit diterima oleh para bawahan.
6.  
           Budaya Anomi ( Culture of Anomi)
Anomi memilik pengertian yaitu seseorang yang kehilangan jati diri. Dalam proses transisi atau perubahan organisasi akan mengalami penggabungan unit (merger), pemisahan unit (spin of), penempatan orang baru, mutasi, atau promosi. Jika manajemen organisasi dan pimpinan tidak dapat mengatur dan mengendalikan proses transisi secara baik maka seseorang akan mengalami anomi mereka akan merasa tidak berada pada tempatnya.
7.  
           Budaya Mengedepankan Kelompok (The rise of Underground Subculture)
Perubahan-perubahan yang terjadi di dalam organisasi akan menimbulkan banyak issue yang membuat individu-individu di dalam organisasi tersebut menjadi cemas dan bimbang. Perasaan cemas tersebut tidak selalu diungkapkan terhadap pimpinan, mereka lebih senang berkumpul dengan orang-orang yang memiliki kesamaan rasa hingga akhirnya membentuk kelompok yang mengancam keutuhan organisasi.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar